You are currently viewing Situs Berita Memblokir Internet Archive demi Cegah Perayapan AI, Apakah Web Terbuka Kian Menyempit?

Situs Berita Memblokir Internet Archive demi Cegah Perayapan AI, Apakah Web Terbuka Kian Menyempit?

Ketika World Wide Web Internet Archive pertama kali diperkenalkan pada awal 1990-an, para penciptanya membayangkan sebuah ruang digital tempat siapa pun dapat berbagi informasi dan berkolaborasi secara bebas. Namun, tiga dekade kemudian, cita-cita tentang internet yang terbuka dan gratis tampak semakin tergerus.

Sejak 1996, Internet Archive telah merekam perjalanan internet dan membukanya untuk publik melalui layanan Wayback Machine. Kini, sejumlah perusahaan media terbesar dunia justru membatasi akses arsip tersebut ke halaman-halaman mereka.

Penerbit besar seperti The Guardian, The New York Times, Financial Times, dan USA Today mengonfirmasi telah menghentikan akses Internet Archive terhadap konten mereka.

Meski para penerbit menyatakan tetap mendukung misi pelestarian arsip digital, mereka menilai akses tanpa batas menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Salah satunya adalah terbukanya peluang bagi perayap kecerdasan buatan (AI crawler) serta pembaca yang memanfaatkan arsip untuk melewati sistem paywall.

Namun, persoalannya bukan semata menutup akses bagi AI. Banyak penerbit justru ingin memonetisasi arsip konten mereka dengan menjualnya kepada perusahaan teknologi yang membutuhkan data dalam jumlah besar. Arsip berita, buku, dan berbagai materi lainnya kini menjadi komoditas bernilai tinggi untuk melatih sistem AI.

Pembaca Robot

Sistem AI generatif seperti ChatGPT, Copilot, dan Gemini memerlukan akses ke kumpulan data masif—mulai dari artikel media, buku, karya seni, hingga riset akademik—baik untuk pelatihan maupun untuk menjawab permintaan pengguna.

Penerbit media menuding perusahaan teknologi telah memanfaatkan banyak konten tersebut secara gratis tanpa persetujuan pemegang hak cipta. Sejumlah perusahaan media pun menempuh jalur hukum, menuduh teknologi AI telah mengambil kekayaan intelektual mereka. Kasus besar di antaranya adalah gugatan The New York Times terhadap OpenAI, serta langkah hukum News Corp terhadap Perplexity AI.

Arsip Lama, Nilai Baru

Sebagai respons, beberapa perusahaan teknologi memilih menandatangani perjanjian berbayar dengan penerbit. Kontrak antara News Corp dan OpenAI, misalnya, disebut-sebut bernilai lebih dari 250 juta dolar AS untuk jangka waktu lima tahun.

Kesepakatan serupa juga terjadi di dunia penerbitan akademik. Selama ini, penerbit seperti Taylor & Francis dan Elsevier kerap dikritik karena menempatkan riset yang didanai publik di balik paywall komersial. Kini, Taylor & Francis menandatangani kesepakatan non-eksklusif senilai 10 juta dolar AS dengan Microsoft, yang memberi akses ke lebih dari 3.000 jurnal ilmiah.

Di saat yang sama, penerbit memanfaatkan teknologi untuk menahan bot AI yang tidak diinginkan, termasuk crawler milik Internet Archive. Sejumlah perusahaan media menyebut Internet Archive sebagai “pintu belakang” ke katalog mereka, yang berpotensi dimanfaatkan perusahaan teknologi untuk tetap menyalin konten.

Harga Mahal dari Berita Gratis

Wayback Machine juga kerap digunakan publik untuk membaca berita tanpa melewati paywall. Wajar jika media ingin pembaca membayar, sebab jurnalisme adalah bisnis yang kini semakin tertekan.

Model pendapatan iklan media terus tergerus—ironisnya oleh perusahaan teknologi yang juga memanfaatkan konten berita untuk melatih AI. Dampaknya, akses publik terhadap informasi tepercaya ikut terancam.

Pada akhir 1990-an, ketika media mulai memindahkan konten ke internet dan memberikannya secara gratis, mereka ikut membangun budaya berbagi yang menjadi ciri web awal. Namun, belakangan sejumlah pengamat menyebut langkah itu sebagai “dosa asal” jurnalisme digital. Publik terbiasa membaca gratis, sementara banyak media kecil dan menengah kesulitan bertahan saat model bisnis berubah.

Sebaliknya, menempatkan seluruh berita di balik paywall juga menimbulkan masalah baru. Pembaca dipaksa memilih antara berlangganan banyak layanan mahal atau membatasi konsumsi berita. Alternatifnya, mereka hanya mengandalkan berita gratis yang tersisa atau konten yang dipilihkan algoritma media sosial. Hasilnya adalah internet yang semakin tertutup dan komersial.

Ini bukan pertama kalinya Internet Archive berhadapan dengan penerbit. Sebelumnya, organisasi ini pernah digugat dan dinyatakan melanggar hak cipta melalui proyek Open Library.

Masa Lalu dan Masa Depan Internet

Selama lebih dari 30 tahun, Wayback Machine telah berfungsi sebagai catatan publik dunia maya, dimanfaatkan oleh peneliti, pendidik, jurnalis, hingga sejarawan internet amatir.

Jika akses ke surat kabar internasional diblokir, akan muncul celah besar dalam arsip sejarah internet. Saat ini, publik masih bisa melihat halaman depan The New York Times edisi Juni 1997—saat pertama kali situs tersebut diarsipkan. Namun, tiga dekade mendatang, halaman depan hari ini mungkin tak lagi dapat diakses, meskipun Internet Archive masih bertahan.

Situs web masa kini adalah dokumen sejarah di masa depan. Tanpa upaya pelestarian dari organisasi nirlaba seperti Internet Archive, banyak catatan penting berisiko hilang.

Di tengah tekanan dari penerbit komersial dan tantangan baru akibat AI, organisasi nirlaba seperti Internet Archive dan Wikipedia terus berupaya menjaga gagasan tentang internet yang terbuka, kolaboratif, dan transparan. Tuna55

Leave a Reply