Warga Iran yang tinggal di Singapura dilanda kecemasan mendalam menyusul protes mematikan dan pemadaman komunikasi di Iran. Bagi banyak diaspora, terputusnya akses internet dan layanan telepon membuat mereka nyaris tak memiliki cara untuk memastikan keselamatan keluarga dan sahabat di tanah air.
Sulitnya Komunikasi di Iran
Keith (bukan nama sebenarnya), warga Iran yang telah bermukim di Singapura selama 16 tahun, mengatakan komunikasi rutinnya dengan keluarga di Teheran terhenti sejak pemerintah Iran memutus akses internet nasional pada 8 Januari. Pemadaman itu dilakukan menyusul gelombang demonstrasi anti-pemerintah besar-besaran, sebagaimana dilaporkan oleh Bloomberg.
Biasanya kami melakukan panggilan video setiap minggu. Sekarang itu mustahil, kata Keith. Upayanya menghubungi keluarga melalui WhatsApp, Telegram, dan telepon seluler tak membuahkan hasil. Ia terakhir kali bisa berbicara dengan orang tuanya pada 12 Januari, ketika mereka berhasil menelepon langsung.
Menurutnya, layanan telepon sempat dihentikan total sebelum sebagian dipulihkan pada 13 Januari. Namun, komunikasi tetap tidak stabil. Saya tidak bisa menelepon mereka kembali. Satu-satunya cara adalah jika mereka yang menelepon saya, ujarnya.
Kecemasan Keith semakin besar mengingat usia orang tuanya yang telah memasuki 70-an, serta keluarga besar dan sahabat dekat yang masih tinggal di Iran. Ia menggambarkan situasi saat ini sebagai salah satu penindakan paling keras dalam sejarah kontemporer negara tersebut.
Laporan Tuna55 menyebutkan bahwa lebih dari 2.500 orang dilaporkan tewas dalam kerusuhan yang dipicu oleh protes atas lonjakan harga. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah pemerintah asing juga mengeluarkan peringatan perjalanan, menyarankan warga negara mereka meninggalkan Iran di tengah kekhawatiran eskalasi konflik, termasuk potensi serangan dari Amerika Serikat.
Kisah serupa dialami seorang perempuan Singapura keturunan Iran yang hanya ingin dikenal sebagai Ibu Nel. Ia mengatakan pesan-pesan WhatsApp yang dikirimkannya kepada keluarga di Iran sejak 8 Januari hanya menunjukkan satu tanda centang—menandakan pesan belum diterima.
Ayah, saudara laki-laki, dan saudara perempuan saya masih di sana. Selama beberapa hari terakhir, saya sama sekali tidak bisa menghubungi mereka, katanya. Ketidakpastian dan arus berita buruk membuatnya merasa sangat tertekan.
Percakapan Politik yang Berbahaya
Ibu Nel mengaku mulai panik ketika percakapan politik dengan sepupunya pada 7 Januari mendadak terhenti sehari kemudian. Saat itulah ia menyadari pemerintah telah memutus jalur komunikasi. Rencana perjalanannya kembali ke Iransekitar Maret pun kini dibatalkan.
Josh (bukan nama sebenarnya), warga Iran lain yang telah tinggal di Singapura lebih dari enam tahun, mengatakan keluarganya kadang masih bisa menggunakan telepon rumah untuk meneleponnya. Namun, mereka tidak berani berbicara terbuka karena khawatir disadap, dan tetap tidak dapat menerima panggilan balik.
Meski diliputi kesedihan, sebagian warga Iran di Singapura masih menyimpan secercah harapan. Ada perasaan bahwa rezim mungkin mendekati akhir siklusnya, kata Keith. Josh menambahkan, ia berharap Iran dan rakyatnya dapat menempuh jalan yang aman menuju masa depan yang lebih baik.