Penyanyi asal Indonesia Margareth mengungkap kebiasaan tak lazim yang ia yakini berperan besar dalam menjaga kualitas suaranya tetap stabil dan lembut. Margareth mengaku pernah mengonsumsi minuman yang mengandung sperma ular sebagai bagian dari perawatan vokalnya.
Pengakuan tersebut disampaikan melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya pada 28 Maret 2025. Dalam tayangan itu, Margareth memperlihatkan dirinya meminum ramuan yang ia sebut sebagai herbal tradisional asal Tiongkok. Aksi tersebut sontak memicu beragam reaksi dari warganet yang terkejut dengan ritual yang dinilai ekstrem, sebagaimana dilaporkan People pada Jumat (16/1/2026).
Margareth menyebut, meski awalnya ragu, ia akhirnya mencoba minuman tersebut atas saran pelatih vokalnya. Ia percaya kandungan dalam ramuan itu dapat membantu menjaga kejernihan dan kekuatan suaranya, terutama saat bernyanyi.
Kebiasaan ini disebut telah menjadi bagian dari rutinitasnya dalam menjaga performa vokal. Menurut Margareth, pelatih vokalnya merekomendasikan ramuan tersebut setelah menjelaskan manfaatnya bagi kesehatan pita suara, meski terdengar tak lazim bagi banyak orang.
Saat ditanya soal rasanya, penyanyi lagu Blame Me itu mengatakan minuman tersebut tidak terasa seperti teh herbal pada umumnya. Sebaliknya, rasanya justru menyerupai madu.
Kalau kamu ingin suara yang bagus, kamu harus minum sperma ular, ujarnya dalam video tersebut.
Dalam keterangan unggahannya, Margareth hanya menambahkan tiga emoji sederhana—mikrofon, ular, dan tabung reaksi berisi cairan hijau—yang seolah menegaskan bahwa ia menjalani ritual tersebut tanpa ragu.
Musik sebagai Ruang Kebebasan
Pengakuan soal ritual unik itu muncul tak lama setelah Margareth merilis EP terbarunya berjudul Nashville Canyon, Pt. 1 pada 21 Maret 2025. Dalam unggahan terpisah untuk merayakan perilisan EP tersebut, ia membagikan refleksi pribadi tentang makna musik dalam hidupnya.
Aku bernyanyi karena aku bahagia, aku bernyanyi karena aku bebas, tulis Margareth. Ia juga menyinggung soal keberanian melangkah di tengah ketidakpastian, serta keyakinan untuk tetap bergerak meski dihadapkan pada rasa takut.
Margareth menjelaskan bahwa EP terbarunya merupakan hasil dari proses mendengarkan kata hati, tanpa terikat ekspektasi industri musik. Dalam perjalanan tersebut, suara dan insting pribadinya menjadi kompas utama yang membimbing langkah kreatifnya.
Lewat berbagai pendekatan yang tak biasa, Margareth menunjukkan bahwa perjalanan bermusiknya bukan sekadar soal teknik vokal, tetapi juga keberanian bereksplorasi dan menembus batas demi mempertahankan kualitas suara serta kebebasan berekspresi. Tuna55