Peristiwa meninggalnya YBS, seorang anak berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), akibat gantung diri, mengguncang perasaan banyak pihak. Bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu diduga mengakhiri hidupnya setelah keinginannya untuk dibelikan buku dan pena tidak dapat dipenuhi oleh keluarga karena keterbatasan ekonomi.
Tim Psikolog dan Konselor Di Turunkan
Kapolda NTT Irjen Rudi Darmoko menyampaikan bahwa Polda NTT telah menurunkan tim psikolog dan konselor untuk memberikan pendampingan kepada keluarga korban. Langkah tersebut diambil guna membantu meringankan beban psikologis keluarga yang tengah berduka atas kepergian anak mereka.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal dan olah tempat kejadian perkara (TKP), diketahui bahwa peristiwa tragis tersebut diduga dipicu oleh kekecewaan korban karena tidak dibelikan buku dan alat tulis.
“Untuk sementara, dari hasil penyelidikan awal dan olah TKP, motifnya mengarah ke situ,” ujar Rudi.
Selain itu, Kapolda NTT juga telah menginstruksikan Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino untuk mendatangi rumah duka. Kehadiran aparat kepolisian diharapkan dapat memberikan dukungan moral, santunan, serta pendampingan psikologis kepada keluarga korban.
“Kapolres Ngada sudah saya perintahkan untuk langsung ke lokasi rumah duka guna memberikan santunan dan pendampingan psikologi,” jelasnya.
Rudi menambahkan, kasus meninggalnya siswa kelas IV SD tersebut telah mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat.
“Ini menjadi perhatian sangat besar karena informasinya sudah sampai ke Istana Negara,” tegasnya.
Kejadian yang Menimpa Bocah SD Mencerminkan Kuatnya Kemiskinan
Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, saat dihubungi tim Tuna55 pada Rabu (4/2/2026), menyatakan bahwa peristiwa ini mencerminkan masih kuatnya persoalan kemiskinan yang dialami sebagian keluarga di Indonesia, yang berdampak langsung pada kondisi psikologis anak.
“Kasus ini menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan masih menjadi beban nyata, bahkan bagi anak-anak, dan itu bisa berujung pada tekanan psikologis yang berat,” ungkap Budiman.
Menurutnya, pemerintah saat ini tengah mendorong penguatan program Sekolah Rakyat (SR) agar anak-anak dari keluarga miskin ekstrem tetap memiliki akses terhadap pendidikan dan fasilitas belajar yang layak, sehingga kejadian serupa tidak terulang.
“Dengan pembangunan Sekolah Rakyat, anak-anak dari keluarga miskin ekstrem diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan yang menyediakan sarana belajar memadai,” jelasnya.
Budiman juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam menangani kasus ini secara menyeluruh, termasuk pemulihan kondisi ekonomi dan mental keluarga korban. Pemerintah pusat, kata dia, akan terus berupaya mengatasi persoalan kemiskinan dan kesehatan mental anak secara sistemik.
“Pemda setempat harus segera turun tangan, sementara pemerintah pusat terus bekerja menangani akar persoalan kemiskinan dan kesehatan mental anak-anak,” ujarnya.
Secara pribadi, Budiman mengaku turut memohon maaf karena program Sekolah Rakyat belum sepenuhnya menjangkau seluruh anak dari keluarga miskin ekstrem.
“Ini menjadi catatan penting. Prosesnya memang belum sepenuhnya menyentuh semua anak yang membutuhkan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Presiden telah mengarahkan agar pembangunan Sekolah Rakyat terintegrasi dengan program perumahan rakyat serta jejaring ekosistem pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Semuanya sedang dalam tahap pengerjaan dan penguatan,” tambahnya.
Budiman juga meminta Pemerintah Kabupaten Ngada untuk melakukan langkah cepat dalam memulihkan kondisi ekonomi dan psikologis keluarga korban serta masyarakat sekitar.
Kronologi Kejadian
Sebelumnya diberitakan, YBS (10) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung setelah sebelumnya meminta dibelikan buku dan pena kepada ibunya. Permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Peristiwa memilukan ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, tempat korban tinggal.
Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, menyampaikan bahwa berdasarkan keterangan warga sekitar, YBS dikenal sebagai anak yang baik, ramah, dan rajin belajar, meskipun hidup dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas.
“Anaknya pintar dan sopan. Jarang terlihat murung, justru dikenal rajin belajar,” ungkap Tage.
Sehari sebelum kejadian, YBS diketahui menginap di rumah ibunya. Saat itu, ia sempat meminta uang untuk membeli buku dan pena. Namun sang ibu tidak mampu memenuhinya karena tidak memiliki uang. Ayah korban sendiri telah meninggal dunia sejak YBS masih dalam kandungan.
Tinggal Bersama Nenek Lansia
Selama ini, YBS tinggal bersama neneknya yang telah berusia sekitar 80 tahun. Sementara ibu korban tinggal di kampung lain bersama lima anaknya yang lain.
“Kasih sayang yang ia terima juga sangat terbatas. Ia merupakan anak dari pernikahan ketiga ibunya,” jelas Tage.
YBS ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa pada Kamis siang oleh warga yang kebetulan sedang mengurus ternak di sekitar rumah neneknya. Pada pagi hari sebelum kejadian, warga sempat melihat korban duduk di depan rumah, meski seharusnya ia sudah bersiap berangkat ke sekolah.
Sementara itu, MGT (47), ibu korban, menuturkan bahwa malam sebelumnya YBS menginap di rumahnya. Pada pagi hari sekitar pukul 06.00 Wita, korban diantar dengan ojek menuju rumah neneknya.
Sebelum berpisah, sang ibu sempat berpesan agar YBS rajin bersekolah dan memahami kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas.
Surat Perpisahan untuk Ibu
Usai kejadian, pihak Polres Ngada mengungkapkan bahwa ditemukan secarik kertas berisi tulisan tangan korban menggunakan bahasa daerah setempat. Surat tersebut berisi pesan perpisahan untuk sang ibu dan keluarga.
Tulisan tersebut berbunyi:
KERTAS TII MAMA RETI
MAMA GALO ZEEMAMA MOLO JA’OGALO MATA MAE RITA EE MAMA
MAMA JAO GALO MATAMAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EEMOLO MAMA
Yang jika diterjemahkan berarti:
SURAT UNTUK MAMA RETI
Mama, saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi, jangan menangis ya, Mama.
Mama, saya pergi. Mama tidak perlu menangis, mencari, atau merindukan saya.
Selamat tinggal, Mama.
Di bagian akhir surat tersebut, terdapat gambar wajah menangis yang digambar oleh korban.