You are currently viewing Tren Investasi 2026 di Tengah Ketidakpastian Pasar

Tren Investasi 2026 di Tengah Ketidakpastian Pasar

Tren Investasi 2026 di Tengah Ketidakpastian Pasar – Meski sejumlah kelas aset menunjukkan kenaikan valuasi,

kondisi pasar global saat ini dinilai belum mengarah pada terbentuknya gelembung (bubble) sistemik seperti yang pernah terjadi di masa lalu.

Penilaian tersebut tercantum dalam laporan “Global Market Outlook 2026 – Blowing Bubbles?”

yang dipresentasikan dalam forum tahunan World of Wealth (WoW).

Laporan ini menegaskan bahwa aset berisiko, khususnya saham, masih memiliki peluang mencatat kinerja positif sepanjang 2026.

Dorongan utamanya berasal dari pertumbuhan laba korporasi, termasuk dari tren jangka panjang seperti digitalisasi,

adopsi teknologi, dan kecerdasan buatan (AI).

Tren Investasi Tiga Tema Investasi Utama di 2026

Dalam kajiannya, Standard Chartered Indonesia merumuskan tiga tema investasi utama yang dinilai relevan untuk 2026.

Pertama adalah equities, dengan penekanan pada pasar yang ditopang oleh pertumbuhan laba perusahaan yang solid. Kedua, income,

terutama obligasi dari negara berkembang yang menawarkan imbal hasil menarik sekaligus berfungsi sebagai alat diversifikasi portofolio.

Ketiga, diversifiers, seperti emas dan strategi investasi alternatif, yang berperan meredam volatilitas.

Pendekatan tersebut menekankan pentingnya diversifikasi lintas kelas aset dan wilayah geografis. Selain itu,

investor dianjurkan menerapkan struktur alokasi yang lebih terarah, dengan membagi portofolio ke dalam komponen inti (core),

taktis (tactical), dan oportunistik (opportunistic), guna menyeimbangkan potensi imbal hasil dan pengelolaan risiko dalam jangka panjang.

“Di tengah tantangan pasar global, kami tetap melihat prospek jangka panjang Indonesia secara konstruktif.

Respons cepat regulator dan fokus berkelanjutan pada penguatan fundamental ekonomi menjadi modal penting bagi pemulihan,”

ujar CEO Standard Chartered Indonesia, Donny Donosepoetro OBE, Sabtu (7/2/2026). Ia menambahkan bahwa disiplin dalam menyusun portofolio

dan diversifikasi menjadi kunci agar nasabah dapat bertahan di tengah volatilitas tanpa kehilangan fokus pada tujuan investasi jangka panjang.

Proyeksi Ekonomi Indonesia dan Arah Kebijakan Moneter

Dari sisi makroekonomi, Senior Economist Standard Chartered Indonesia, Aldian Taloputra, memperkirakan perekonomian nasional

akan memasuki fase pertumbuhan yang lebih bersifat siklikal. Produk Domestik Bruto (PDB)

Indonesia diproyeksikan tumbuh sebesar 5,2% pada 2026, meningkat dibandingkan estimasi pertumbuhan 5% pada 2025.

Sementara itu, dari perspektif kebijakan moneter, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan pendekatan yang cermat sepanjang 2026.

Fokus utama diarahkan pada menjaga stabilitas eksternal, sekaligus tetap memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi domestik.

Melalui forum World of Wealth, Standard Chartered Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjadi mitra tepercaya bagi nasabah

dalam menghadapi dinamika ekonomi global dan memanfaatkan peluang investasi, sambil tetap memberikan kontribusi positif

bagi pembangunan masyarakat Tuna55 secara berkelanjutan.

Leave a Reply